Menu

Pemkot Kediri ajak kaum remaja pelajari aksara jawa kuno

Kediri (ANTARA) – Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, mengajak kaum remaja di kota itu untuk mempelajari aksara jawa kuno, sehingga semakin menumbuhkan rasa kepedulian pada peninggalan sejarah dengan jumlah peserta terbatas karena masih pandemi COVID-19.

Asisten 3 Bidang Administrasi Umum Pemerintah Kota Kediri Nur Muhyar mengemukakan kegiatan belajar di museum perlu dipupuk sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Kegiatan belajar di museum perlu dipupuk sebagai bentuk pelestarian budaya. Terlebih lagi selama ini pembelajaran sejarah hanya melalui teori saja,” kata Nur yang juga Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kota Kediri ini di Kediri, Selasa.

Kegiatan ini juga didukung oleh Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar. Diharapkan, metode belajar ini dapat dilanggengkan ke depannya sehingga dapat meningkatkan minat pelajar maupun pemerhati umum untuk mengunjungi museum.

Kegiatan belajar mengenal aksara jawa kuno itu digelar di Museum Airlangga Kota Kediri. Acara itu digelar dalam rangkaian peringatan Hari Museum Nasional. Terdapat belasan peserta Saka Pariwisata untuk belajar bersama di Museum Airlangga, Kota Kediri tersebut.

Peserta yang hadir juga diajarkan langsung cara membaca dan menulis menggunakan aksara jawa kuno. Dengan itu, mereka tidak hanya mendengarkan paparan narasumber terkait dengan aksara jawa kuno, tapi juga bisa praktik secara langsung.

Hasil tulisan mereka juga dibagikan ke media sosial masing-masing sehingga masyarakat lainnya juga tertarik untuk ikut belajar aksara jawa kuno. Hal ini sekaligus mengantisipasi peserta yang ikut serta membeludak, karena saat ini masih pandemi COVID-19.

Junio Chelsa Putra Setyana, salah seorang peserta kegiatan tersebut mengaku senang akhirnya dapat belajar aksara jawa kuno. Ia awalnya sempat kebingungan dan kesulitan membaca tulisan di prasasti, tapi dengan belajar sedikit sedikit dirinya bisa memahami.

“Acara ini sangat bagus sekali, karena saya dan teman-teman akhirnya bisa mengenal penulisan, cara baca aksara jawa kuno, yang biasanya tidak diajarkan di bangku sekolah,” kata Junio yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA di Kediri tersebut.

Eko Bastiawan, pemateri dalam kegiatan itu mengatakan bahwa saat ini masih banyak prasasti yang belum masuk dan dirawat di museum.

“Sehingga para sejarawan kini berpacu dengan waktu untuk bisa membaca ulang dan mendokumentasikan prasasti sebelum tulisan yang terpahat memudar karena cuaca,” kata pria yang merupakan lulusan SOAS University¬†London ini.

Eko yang juga tergabung dalam komunitas pemerhati budaya dan sejarah ini berharap, nantinya akan semakin banyak generasi muda yang mampu membaca aksara jawa kuno dan dapat membantu pembacaan prasasti.

Dalam kegiatan peringatan Hari Museum Nasional tersebut, selain ada kegiatan belajar aksara jawa kuno, juga terdapat beragam acara lainnya. Dijadwalkan acara ini akan berlangsung hingga Jumat (15/10). 



Sumber Berita : saptanawa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*