“Nana” & “Everything Will Be Ok” eksplorasi beban kekerasan masa lalu

Jakarta (ANTARA) – Film “Nana” atau “Before, Now & Then” dari sutradara Indonesia Kamila Andini serta film “Everything Will Be Ok” dari sutradara Kamboja-Prancis Rithy Panh sama-sama berkompeteisi di Festival Film Berlin.

Kedua film ini memiliki benang merah yang sama, mengeksplorasi apa dampak kekerasan terhadap manusia, satu film mengeksplorasinya lewat naratif sejarah yang menyakitkan, satu lagi lewat fantasi.

Kamila Andini memperlihatkan dampak perang bertahun-tahun dalam hidup seorang perempuan di Bandung, Jawa Barat.

Setelah kehilangan suami pertama dan keluarganya dalam sebuah perang era 1940-an, dia menikah lagi dengan pria dari keluarga menak dan hidup menghadapi kekacauan pembunuhan massal tahun 1960-an. Nana bertemu dengan perempuan simpanan suaminya, tetapi keduanya juga saling memberi dukungan sebagai sesama perempuan yang hidup pada tahun 1960-an.

Film berbahasa Sunda ini diangkat berdasarkan kisah hidup Raden Nana Sunani yang diadaptasi dari salah satu bab dalam novel “Jais Darga Namaku” karya Ahda Imran.

Dikutip dari Reuters, Minggu, film “Nana” fokus terhadap dampak masa-masa penuh kekerasan terhadap hidup Nana (diperankan Happy Salma) dan para perempuan serta anak-anak di sekitarnya, menunjukkan bagaimana dia mengendalikan emosi sangat disiplin, sama ketatnya seperti kain yang membalut tubuhnya untuk acara-acara formal.

“Sebagai perempuan dari Indonesia, kami selalu diminta menyembunyikan masalah untuk menjaga nama keluarga di tengah masyarakat,” kata Kamila Andini dalam konferensi pers film panjang keduanya dalam bahasa Sunda.

Pada akhir Januari, Kamila Andini mengatakan melalui kacamata karakter Nana, penonton dapat merasakan pergerakan dan perubahan zaman yang terjadi secara cepat di Indonesia, mulai dari masa awal pasca-kemerdekaan, peristiwa DI/TII, hingga masa pergantian presiden pada masa tersebut.

“Ada banyak sekali perubahan, bagaimana perempuan itu juga harus terus beradaptasi dengan perubahan ini di wilayah domestik sekalipun. Buat saya, ini sangat menarik meskipun dilihat dari kacamata yang sangat intim di dalam rumah tangga dan pernikahan di wilayah domestik,” katanya saat jumpa pers di Jakarta (22/1).

Sementara itu, sutradara Kamboja-Prancis Rithy Panh mengambil pendekatan lain, menampilkan cerita lewat patung boneka tanah liat, bagaimana bila yang punya kuasa di dunia adalah binatang-binatang. Apakah yang akan mereka lakukan dan bagaimana mereka memperlakukan manusia?

“Saya ingin membuat dunia menjadi hidup,” kata Panh, yang datang ke Paris pada 1990 setelah melarikan diri dari genosida Khmer Merah di negara asalnya.

“Saya buat ratusan tanah liat dan dilukis kemudian difilmkan untuk menjelajahi sejarah melalui tragedi dan perjuangan.” (*)

 



Sumber Berita : saptanawa.com


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *