Menu

Komitmen Besar PJT I, Jaga Kualitas Air Walau Setetes

Bukan pekerjaan mudah untuk menjaga kualiatas agar tetap terjaga. PJT I harus kerja keras agar air bisa aman dari pencemaran utamanya limbah sampah.

Air produksi perusahaan daerah air minum (PDAM) yang sampai ke rumah kita ternyata memiliki rantai yang panjang.  PDAM hanyalah hilirnya yang menyajikan dan bersentuhan dengan masyarakat. Di hulunya ada Perum Jasa Tirta (PJT) l yang menyediakan kualitas bahan baku air agar benar-benar mudah diproses menjadi air bersih dan disajikan ke masyarakat oleh PDAM.

Bukan pekerjaan mudah untuk menjaga kualiatas agar tetap terjaga. PJT I harus kerja keras agar air bisa aman dari pencemaran utamanya limbah sampah.  Pekerjaan yang kasat mata ialah membersihkan sungai dari limbah sampah apapun yang ada di sungai.  Salah satunya di sisi hulu DAS Brantas dengan pengangkatan sampah secara mekanis di Bendungan Sengguruh, Kabupaten Malang.  Bendungan Sengguruh merupakan bendungan paling hulu di sistem sungai Brantas

Direktur Operasional PJT I, Gok Ari Joso Simamora mengatakan, permasalahan sampah pada sungai Brantas merupakan tanggung jawab bersama. Baik pemerintah maupun masyarakat.

“Kami dari Perum Jasa Tirta I berkomitmen untuk melakukan pemeliharaan di setiap infrastruktur yang kita kelola,” kata dia, belum lama ini.

Bendungan Sengguruh menerima sampah yang mengalir dari hulu Brantas, yakni dari Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang dengan total daerah tangkapan air seluas 1.659 km².  Tingginya tingkat kepadatan penduduk di ketiga wilayah tersebut,  mengakibatkan volume timbulan sampah domestik yang tertampung di Bendungan Sengguruh sangat besar.

“Masih banyak masyarakat yang tidak segan membuang atau menumpuk sampah di badan sungai, termasuk sempadan. Untuk penanganan sampah ini, setiap harinya kami juga melakukan pengangkatan sampah secara mekanis. Rata-rata volume sampah yang terangkat pada musim kemarau mencapai 30 m³ per hari. Namun apabila musim hujan bisa mencapai 200 m³ per hari. Dalam satu tahun rata-rata volume sampah yang tertangkap di Bendungan bisa mencapai lebih dari 40.000 m³,” ungkap dia.

Rumitnya lagi, sampah yang telah terangkat ini tidak bisa langsung dibuang ke dumping area, melainkan harus melalui proses pengeringan di lahan pembuangan sementara untuk kemudian secara rutin di hauling ke TPA.

Menurut Direktur Utama PJT l, Raymond Valiant Ruritan mengatakan,  plastik membentuk 30% dari sampah yang ditangkap di Bendungan Sengguruh tiap bulan, untuk bagian hulu Sungai Brantas. Hampir 40% dari sampah di bagian hilir di Sungai Surabaya.

Hal inilah yang akhirnya menjadi pekerjaan yang tak kasat mata bagi PJT I. PJTI melakukan berbagai studi untuk mendalami dampak dari timbulan sampah yang ada di Sungai Brantas.

“Saat ini sedang berlangsung studi terkait kandungan mikroplastik di DAS Brantas. Studi ini dilakukan bersama antara PJT I dengan Universitas Brawijaya untuk memotret karakteristik dan profil sebaran kandungan mikroplastik di sepanjang Sungai Brantas. Penelitian tersebut diharapkan selesai akhir November.  Nantinya, hasil studi ini akan kami sampaikan juga kepada pemerintah pusat maupun daerah sebagai data input dalam merumuskan upaya penanganan sampah plastik,” kata dia.

“Desember akan publish pertama kali,” tambah dia.

 Data PJT, wilayah sungai Surabaya, kandungannya tidak berbeda signifikan antara sebelum PPKM dan sesudah PPKM. Kurang lebih masih rata rata, kenapa? Karena sampah fenol dan deterjen ini asalnya bukan hanya dari Rumah Tangga (RT), tetapi juga industri rumah makan dan hotel. Untuk rumah tangga, pemakaian sabun yang naik, kalau industri justru turun.

“Yang saya khawatir sampah padat seperti plastik dan masker,” ungkapnya.

Pihaknya mengamati pemakaian sampah plastik justru meningkat. Untuk penelitiannya, PJT melibatkan mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB),Surabaya dan Gresik.

“Penelitian mikro, kensentrasinya di air kalau dimakan ikan apa ada kandungan mikro plastiknya,” kata dia.

Sampel ada sejumlah titik kualitas air yakni Sungai Brantas, paling tidak separuhnya.  Harapan tahun ini, kalau sekarang saatnya menunjukan?  Umpama kandungan mikro plastik tinggi? Harus ada actionplan.

“Contohnya semua produsen yang memakai plastik, Saya kira gubernur Jatim bisa meminta untuk mendaur ulang produknya,” ujar dia.

“Harapan kami study ini jadi kita laporkan ke Ibu Gubernur Jatim Khofifah. Kalau memang dianggap ini kritis, ayo digarap bareng-bereng. Industri yang memakai plastik apa kontribusinya? Nah, itu namanya clean industry yang kembali ke masyarakatnya karena itu sangat berpengaruh. Semakin tinggi konsumsi plastik itu semakin makmur,” kata dia.

Negara terbesar konsumsi plastik  Amerika, Cina dan India.  Masyarakatnya banyak, konsumsinya tinggi.  Sekarang bagaimana industri yang memakai kemasan plastik ikut peduli. Contohnya menyediakan tempat untuk mendeponir popok.  Industri plastik memberi insentif ke pemulung plastik. Mekanisme ini yang harus di bangun. Ia berharap perlu adanya komitmen dan kerjasama dari seluruh pihak dalam mengatasi permasalahan sampah di Sungai Brantas.

“Kepedulian dan kedisiplinan kita dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan kontribusi dalam melestarikan lingkungan tempat dimana kita dan anak cucu kita bernaung,” pungkasnya.

Upaya pencegahan juga dilakukan PJT I melalui berbagai kegiatan. Diantaranya sosialisasi ke masyarakat terkait penanganan sampah domestik melalui pemberdayaan masyarakat dari program TJSL (tanggung jawab sosial dan lingkungan). Program itu dirupakan dengan memberikan bantuan pembuatan TPS, alat pencacah sampah, gerobak sampah maupun melaksanakan berbagai program kerjasama dengan instansi pemerintah dan organisasi non pemerintah.

Akhir dari semua upaya tersebut adalah komitmen PJT I yang ingin menjaga kualiats air yang mengalir, walau hanya setetes. (zahrotul maidah)

 

Sumber Berita : saptanawa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*