Menu

Arca Agastya ditemukan dalam ekskavasi situs Srigading Malang

Malang (ANTARA) – Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur menemukan arca Agastya dalam ekskavasi tahap kedua di situs Srigading, Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

“Kami membuka sisi timur, ditemukan adanya arca yang berada di antara reruntuhan bata. Ini kita identifikasi sebagai arca Agastya,” kata Arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)  Provinsi Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho di Kabupaten Malang, Rabu.

Menurut informasi yang disiarkan Balai Pelestarian Cagar Budaya, Agastya adalah seorang resi dari India yang menyebarkan ajaran Hindu ke selatan, termasuk ke wilayah Indonesia. Arca Agastya digambarkan berperut buncit, berkumis, berjenggot, dan bertangan dua.

Wicaksono mengemukakan bahwa arca Agastya yang ditemukan di situr Srigading dibuat dari batuan andesit yang mengandung silika sehingga tampak berkilau saat dilihat dari dekat.

Beberapa bagian dari arca yang diperkirakan berasal dari abad ke-10 Masehi itu diduga rusak saat bangunan candi runtuh.

“Dugaan pertama yang menguat adalah candi itu runtuh di semua bagian dan arca tersebut berada di dalam relung. Ketika bangunan runtuh, arca itu terjatuh dan kemudian tertimpa material yang lebih berat,” kata Wicaksono.

Menurut dia, tim BPCB Jawa Timur masih berupaya untuk menemukan potongan tangan arca Agastya yang memegang kendi. 

Berdasarkan temuan arca tersebut, ia mengatakan, BPCB Jawa Timur mendapatkan gambaran bahwa candi yang ditemukan di tengah areal perkebunan tebu di Desa Srigading pembagian ruangnya seperti candi Hindu aliran Siwaistis seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah.

“Dari hasil temuan arca Agastya ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa ini cocok dengan konsep pembagian candi Hindu beraliran Siwaistis seperti Prambanan,” katanya.

Selain arca Agastya, Wicaksono mengatakan, dalam ekskavasi tahap kedua arkeolog juga menemukan lingga tidak jauh dari tempat yoni berada.

“Lingga ini kami temukan pada kedalaman 60 centimeter, berada di sisi timur yoni dengan jarak kurang lebih 30 centimeter,” katanya.

Tim BPCB Jawa Timur saat ini sedang membuka sisi timur candi dan mencari keberadaan tangga, titik penting untuk menentukan orientasi arah bangunan candi.

“Ini kita berharap nanti akan menemukan temuan lain dari ekskavasi tahap kedua, terutama pada bagian depan atau tangga dari bangunan itu sendiri,” kata Wicaksono.

Situs Srigading yang disebut cegumuk atau gundukan oleh warga setempat berada di tengah areal perkebunan tebu. 

Pada permukaan gundukan setinggi kurang lebih tiga meter itu ada yoni berukuran 0,8×0,8 meter, batuan andesit berbentuk segi empat, dan sebaran batu bata berukuran besar.

 



Sumber Berita : saptanawa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*